patah hati dan teman baik

Surat Cinta Yang Telat #10: Patah Hati dan Teman Terbaik

Dear Cora dan Alena,

Kali ini saya ingin bercerita pada kalian tentang bagaimana menyikapi kehilangan atau patah hati. Mungkin kelak kalian akan mengalaminya. Jadi, duduk dan bacalah..

 

Dear Cora dan Alena

Sudah sebulan lebih saya rajin mendengarkan radio menjelang tidur. Kanal stasiun radio yang sama, sesekali saja saya ganti, karena stasiun radio ini seringkali memutar lagu tanpa jeda iklan dan suara penyiar.

Sebulan lebih pula saya ‘terganggu’ dengan sebuah lagu tanpa tahu judul dan nama penyanyinya. Selepas lagu diputar, tak ada penyiar yang menyebutkan nama penyanyi dan judul lagunya. Pun, saya memang gagap jika menyinggung lagu baru. Kalau lagu lawas, bolehlah diadu.

Hari ini, barulah saya tahu jika lagu ini berjudul ‘Memang Harus Pisah’ yang dinyanyikan oleh Rio Febrian. Single ini ternyata rilis sejak September tahun lalu dan saya baru mendengarnya di pertengahan tahun 2015.

 

Dear Cora dan Alena,

saya kutipkan bagian refrain lagu ini..

sebenarnya kamu sudah tak ada/sekuatnya aku kamu coba tertawa/sejujurnya ini terlalu sakit, sayang, ini sakit/sayang, ku rela berpisah denganmu, kita memang harus pisah//

katakanlah jangan diam, bicaralah sayang/hari ini lebih baik untuk yang terbaik ooh//

Oh iya, mungkin kalian ingin mendengarkan lagunya, saya sertakan link Youtube lagu ini.

 

Lagu ini adalah tentang cinta yang merelakan, cinta yang membebaskan. Kelak, ketika kalian dihadapkan pada kenyataan hidup harus melepaskan seseorang, mungkin pacar, dan saya tak ada di sisi kalian dengarkanlah lagu ini. Anggaplah saya ada memeluk kalian sambil mengusap rambut atau mengelus punggung kalian.

Perpisahan atau kehilangan haruslah kalian hadapi dengan kerelaan. Kehilangan tentu saja akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan dan tanpa kerelaan ia akan menyisakan ruang hampa di hati. Tanpa kerelaan, kalian akan terjebak tinggal di ruang hampa yang hanya berisi kenangan. Tak bisa ‘move – on’ kalau istilah teman – teman ayah.

Dengan merelakan kalian membebaskan diri sendiri, dan juga dia, untuk menemukan hidup yang lebih baik. “tapi, dialah terbaik selama ini dan saya mencintainya,” mungkin kalian akan membantah ayah dengan kalimat itu. Terbaik bagi manusia, percayalah, belum tentu yang terbaik bagi waktu. Biarkan rencana Tuhan berjalan di atas rencana kalian.

Cara terbaik untuk merelakan adalah melepaskan, dan cara terbaik untuk melepaskan adalah jangan mencari tahu apa pun tentang dia yang pergi. Semakin banyak hal yang kau tahu, semakin susah buatmu melepaskan dia. Semakin ingin kamu tahu, semakin kenangan meruak ke permukaan ingatan. Semakin sulit untuk melepaskan. Melepaskan adalah merelakan.

Saat kalian sudah merelakan, hati akan siap menerima orang baru hadir dalam hidup kalian. Membuka kesempatan untuk menyusun rencana – rencana baru bersama dia yang datang kemudian. Dia yang dikirimkan Sang Waktu untuk mengganti apa yang hilang. Dia yang akan menemanimu melupakan masa lalu dan melangkah menuju masa depan. Masa depan yang tak pernah bisa kita tebak, tapi bisa merencanakannya dan berharap apa yang terjadi berjalan di atas rencana Sang Pemilik Waktu.

Dear Cora dan Alena..

Percayalah, saya akan selalu ada saat kalian membutuhkan seorang teman. Jika pun nanti keadaan tidak memungkinkan saya untuk bersama kalian, carilah teman – teman terbaikmu. Pandai – pandailah dalam memilih teman saat ingin curhat. Tak semua teman mau mendengarkan curhatmu karena benar – benar tulus ingin membantu, banyak di antara mereka datang hanya untuk mendengarkan curhatmu kemudian bercerita di belakangmu.

Teman terbaik, adalah dia yang datang untuk menemani dan menghiburmu saat kamu susah tanpa membuatmu merasa sedang dikasihani. Mereka mungkin saja tidak memintamu untuk bercerita atau curhat. Mereka mungkin akan mengajakmu untuk menghabiskan waktu di ruang karaoke atau mengajakmu melakukan kegilaan yang tak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Biasanya, teman terbaik, akan melakukan hal – hal yang membuatmu sejenak lepas dari rasa kehilangan. Pun, mereka mungkin, akan memberimu kesempatan untuk berpikir jernih.

Related Posts

2 Replies to “Surat Cinta Yang Telat #10: Patah Hati dan Teman Terbaik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *