Surat Cinta Yang Telat #11: Harap – Harap Cemas Kelas Menulis Kepo

#dearkamu,

Rasanya sudah sangat lama saya tidak menulis surat untukmu lagi. Enam bulan? Setahun? Ah buat apa lagi kita mengukur sesuatu dengan waktu? Bukankah waktu tak lagi bermakna apa – apa buat kita, saya dan kamu.

Surat ini pun mungkin tak akan menarik perhatianmu. Mungkin pula kamu tak ada waktu lagi untuk membacanya. Tapi, saya akan tetap melanjutkan surat ini, dan juga surat – surat berikutnya, meski tak kamu baca. Sekadar nisan, penanda bahwa saya pernah ada. Juga, warisan buat Cora dan Alena kelak, setelah saya tiada.

 

#dearkamu

Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang kecemasan dan kebahagiaan yang datang berbarengan di hari Jumat ini. Hari Jumat yang istimewa. Betapa tidak, hari ini adalah hari dimana kami memutuskan untuk memulai Kelas Menulis Kepo angkatan ke 2.

Seperti kau tahu, enam bulan lalu, kami memulai sebuah kelas menulis. Kelas yang berisi sekumpulan anak muda yang ingin belajar menulis. Kami memulainya tanpa modal apa – apa. Hanya berbekal semangat dan keinginan untuk belajar. Jangan bayangkan model kelas kami seperti yang biasa kamu jumpai semasa sekolah atau perkuliahan.

Kelas menulis kami tak memiliki ruangan belajar permanen, apalagi gedung, proses belajar kami lakukan dari kafe, rumah hingga alam terbuka. Di kelas kami tak ada guru dan murid. Semua punya peran yang sama; berbagi pengetahuan yang mereka miliki. Ah, lebih bagus kalau kamu membaca tulisan Daeng Ipul berjudul Anak Muda Yang Terjangkit Virus. Masih ingat Daeng Ipul kan? Dia lebih pandai bercerita dibanding saya. Dari tulisan itu, kamu akan tahu bagaimana kelas menulis kami bermula.

 

#dearkamu

Hari ini kami akan memulai Kelas Menulis Kepo angkatan 2 dengan mengadakan pertemuan perdana. Sebelumnya kami sudah membuka pendaftaran dan melakukan seleksi. Di luar dugaan saya, dan teman – teman lain, dalam seminggu jumlah pendaftar mencapai 70 orang. Angka itu muncul setelah kami mencoret peserta yang mengisi form lebih dari sekali. Di form sendiri tercatat 79 pendaftar.

Bagi saya pribadi, angka 70 itu membahagiakan, sebuah pertanda bahwa apa yang kami mulai pada bulan Juni lalu ternyata mendapat apresiasi yang tinggi. Di sisi lain, di balik apresiasi yang tinggi, ekspektasi yang besar selalu mengiringi pula.

Harapan yang besar pada Kelas Menulis Kepo ini, terus – terang, membawa ketakutan pada diri saya. Takut kalau angkatan ke dua ini berjalan tak sebagaimana harapan – harapan orang. Takut harapan peserta – peserta baru ini sangat tinggi dan kami tak mampu memenuhinya. Juga ketakutan lainnya.

Ketakutan – ketakutan ini pula yang membuat saya menjadi sangat cerewet pada teman – teman ‘Kakak Kelas’, sebutan untuk membedakan dengan peserta baru nantinya, demi memastikan segala sesuatu berjalan seperti yang ada dalam kepala dan pikiran saya. Tak semestinya saya melakukan ini, terlalu cerewet dan mungkin terkesan ‘memaksakan’ sesuatu pada mereka yang saya tahu memiliki begitu banyak kesibukan.

Kakak – kakak kelas di KMKepo ini datang dari beragam latar profesi dan kesibukan. Ada tiga orang dosen, salah satunya bahkan ketua program studi di salah satu kampus di Makassar. Ada dokter muda, dua orang fasilitator program pendampingan masyarakat, ada jurnalis foto handal pada salah satu perusahaan media nasional besar, ada mahasiswi yang sedang bergelut menyelesaikan skripsi. Dan lain – lain.

Buah ketakutan saya membuat harapan, sekaligus tuntutan saya terlalu besar pada mereka. Padahal, mereka melakukan ini semua dengan suka dan rela. Tak ada imbalan apa – apa. Mereka rela melowongkan waktu demi kelas menulis ini, padahal tanggung jawab mereka di kantor dan kampus sudah menguras tenaga dan pikiran waktu. Belum lagi mereka semua aktif di berbagai komunitas dan kegiatan sosial yang juga menyita waktu.

Kakak – kakak kelas, maafkan saya yah..

 

#dearkamu

Salah satu dari mereka adalah Nur Al Marwah Asrul yang karib kami sapa dengan ‘Kak Nunu’. Saat ini dia sedang menempuh jenjang pendidikan magister sembari bekerja di salah satu lembaga amal, juga baru – baru ini mengambil peran dan tanggung jawab sebagai Ketua Komunitas Blogger Anging Makassar.

Saya juga ingin berbagi cerita tentang Kak Nunu ini. Semoga berkenan membacanya.

Kak Nunu dan Piala
Kak Nunu dan Piala

Saya lupa kapan persisnya mengenal Kak Nunu. Mungkin pada salah satu kegiatan yang digelar oleh salah satu komunitas di Makassar. Ingatan saya tentang Kak Nunu yang paling membekas adalah saat saya memintanya menjadi ketua Pesta Komunitas Makassar 2015. Permintaan itu muncul menjelang persiapan PKM 2015, dan belum ada seorang pun yang menyatakan bersedia mengemban tugas berat itu. Pun, saya melihat dan yakin akan kemampuan yang Kak Nunu miliki.

Pada akhirnya, Kak Nunu tak menjadi ketua panitia PKM tapi menjadi sekretaris. Saat itu, Ummi Kak Nunu datang dari Arab Saudi dan sebagai anak yang berbakti, tentu Kak Nunu harus menemani beliau. Ummi Kak Nunu ini berdomisili di Arab Saudi, tentu mereka harus menuntaskan kerinduan bukan? Karena itu, Kak Nunu memilih jadi sekretaris saja.

Dan, Kak Nunu membuktikan kapasitasnya sebagai sekretaris yang baik. Di tangannya, administrasi dan segala persuratan kegiatan yang melibatkan 130 komunitas di Makassar sangat rapi. Totalitas Kak Nunu mengemban tugas yang tak ringan ini membuat sang kekasih, yang juga peserta Kelas Menulis Kepo angkatan 1, sampai harus membuat tulisan berjudul Gara-Gara PKM 2015, Saya Diduakan!

Kapasitas dan kemampuan Kak Nunu menjalankan komitmen yang ia pegang dalam mengemban amanah inilah yang membuat saya dan teman – teman memercayakan dia untuk memimpin kami di Komunitas Blogger Anging Mammiri. Di dunia blogging, Kak Nunu bukan orang yang benar – benar baru. Postingan pertamanya  di www.nuralmarwah.com bertiti-mangsa 5 November 2012. Dalam postingan itu pun, kita bisa tahu kalau dia punya blog lain jauh hari sebelumnya.

Dalam angkatan pertama KM Kepo, Kak Nunu merupakan salah satu peserta yang menonjol.  Pilihan tema tulisannya beragam, mulai dari cerita tentang adiknya Uud yang menggemaskan, pengalamannya di beberapa komunitas yang ia ikuti hingga tulisan – tulisan terkait bidang ilmu yang ia dalami. Semuanya mampu ia tuliskan dengan menarik.

Bergabung dengan KM Kepo, Kak Nunu mengasah kemampuan menulisnya. Tulisan – tulisannya semakin enak dibaca.  Kemampuan menulis itu meningkatkan kepercayaan dirinya. Terhitung, tiga kali ia ikut lomba, tiga kali pula ia meraih juara. Sekali juara 1, dua kali juara 2. Terakhir, pengumumannya siang tadi, dia berhasil menjadi juara 2 pada sebuah kompetisi blog tingkat nasional. Sebuah kebahagiaan kecil yang datang juga hari ini.

Sebuah pencapaian yang tidak kecil. Pencapaian yang justru membuatnya semakin rajin belajar dan berbagi pengetahuan tentang menulis. Teruslah begitu, Kak Nu!

 

#dearkamu

Maafkan jika surat ini terlalu panjang dan membahas banyak hal yang mungkin tak berkenan kau baca…

Related Posts

2 Replies to “Surat Cinta Yang Telat #11: Harap – Harap Cemas Kelas Menulis Kepo”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *