Tentang Luka dan Tawa

#DearKamu…

Tentang Luka dan Tawa, dear Alena dan Cora saya punya sebuah cerita.

Santai saja yah bacanya, ini bukan cerita yang berat kok. Tak perlu mengerutkan kening seperti saat membaca berita-berita tentang negeri ini di koran-koran dan portal-portal berita.

Baiklah, inilah cerita tentang luka dan tawa itu..

Saat itu siang yang gerimis, 4 (empat) lalu,  sepulang melakukan pendampingan sebuah kegiatan di desa perbatasan Kab. Jeneponto dan Malakaji Gowa. Jarak antara desa itu dengan ibukota Jeneponto itu 35 km. Tersebab kantuk atau entah apa, saya mengalami kecelakaan.

Jatuh bodo’-bodo’ kata orang Makassar. Hal terakhir yang saya ingat sebelum kecelakaan adalah saya melihat seseorang membersihkan sebuah makam, padahal kata penduduk setempat tak ada makam di sana.

Mungkin memang tersebab kantuk, ditambah suasana gerimis dan jalan berkelok-kelok menuruni area pegunungan, yang menyebabkan kecelakaan itu. Dini hari sebelum kecelakaan saya memang menonton pertandingan antara Real Madrid vs Barcelona yang berakhir dengan skor 0-5 untuk kemenangan tim dari Catalonia itu. Kemenangan itu membawa berkah sebungkus rokok Dji Sam Soe karena bertaruh dengan seorang sahabat yang lebih mengandalkan Real Madrid.

Saat kecelakaan itu terjadi, saya tak sadarkan diri selama kurang lebih 45 menit di bawah kolong rumah penduduk setempat. Penduduk setempat sudah mengira saya tiada, “bawa pulangmi temanta, ndak selamatmi” kata seseorang pada teman saya. 

Desa tempat saya mengalami kecelakaan itu tergolong sepi, berada di kaki pegunungan Lompobattang. Sebuah mobil pikap membawa saya ke puskesmas terdekat setelah menunggu kurang lebih 45 menit.

Sahabat saya yang kalah taruhan inilah yang membopong saya naik ke mobil pikap. Saat kecelakaan, ia berada di desa lain yang berjarak sekira 5 (lima) km dari desa dampingan saya. Begitu mendengar kabar saya kecelakaan, ia memacu motor bututnya melintasi jalanan menanjak berliku.

Kami memang sudah berteman sejak berstatus mahasiswa baru, dia pulalah yang mengajak saya ikut bergabung dalam program pendampingan ini. Ia pula yang membopong saya turun dari pikap ke puskesmas.

Dengan peralatan seadanya, dokter di Puskesmas menjahit luka di wajah saya. Tak butuh obat bius sebab saya tak sadarkan diri. Ada 13 jahitan benang jahit luka sebesar tali jahit sepatu di wajah saya. Itu pun tak semua luka saya dijahit karena puskesmas kehabisan benang jahit. Masih ada luka di wajah, tangan dan telapak kaki yang tak terjahit. Dokter di Puskesmas hanya menutupnya dengan perban.

Saat sadarkan diri, sahabat yang sangat panik tadi memperlihatkan foto tampakan wajah saya seperti foto di atas. Ia mulai tersenyum lega, wajah paniknya sudah tak tampak. Hal pertama saya ucapkan padanya adalah, “senang ko toh? akhirnya kau lebih tampan dari saya” lalu kemudian kami pun tertawa bersama. Menertawakan diri masing-masing.

Begitulah, Alena dan Cora..
Luka hanyalah luka selama kita menganggapnya luka. Rasa sakit hanya menyerang jika kita mengijinkannya. Percayalah, persahabatan dan tawa, adalah penawar dari segala luka.

Tentang rasa sakit dan bahagia, pernah saya tuliskan di Stiker, Be Happy! Mungkin kamu tertarik membacanya.

Related Posts

26 Replies to “Tentang Luka dan Tawa”

  1. hadeh, parahnya itu mukamu waktu kecelakaan hahaha
    saya jadi penasaran, seandainya kau nda kecelakaan apakah kau akan tetap secerdas sekarang, atau malah lebih cerdas?
    jangan2 benturan di kepalamu ada pengaruhnya sama Anchu yang sekarang

  2. Saya ingat pernah berada diposisi temanta tapi waktu itu saya ndak kalah taruhan. Asli bingung mau ngomong apa terutama bagaimana menyampaikan berita ini kepada keluarganya.

  3. Terkadang letak kebahagian itu ketika kita ikhlas menjalani kehidupan dan ikhlas menerima segala kekurangan kak, seperti yang kak Anchu bilang, salah satunya menerima kekurangan kalau kita tidak lagi cekep yang penting kan menarik dan hatinya *eh

  4. Berarti kejadian ini sudah hampir sembilan tahun yang lalu ya kak. Luka itu tentu sudah lama mengering. Namun jejak peristiwa yang dituliskan di blog ini, menjadikan kisahnya abadi. Bukan tentang luka, tapi tentang rasa sakit yang tak diizinkan menyusup. Karena ada persahabatan dan tawa yang menjadi pagarnya.

  5. keren sahabatta saya bayangkan kalau cerita ini jadi scene film
    tp memang begitu kak kalau ada teman kecelakaan diketawai kalau dia sudah sadar
    sementara waktu ndak sadarki, mereka kalang kabut.

  6. keren sahabatta saya bayangkan kalau cerita ini jadi scene film
    tp memang begitu kak kalau ada teman kecelakaan diketawai kalau dia sudah sadar
    sementara waktu ndak sadarki, mereka kalang kabut.

  7. Dear Cora dan Alena, semoga kita bisa cepat bertemu nak, tante selalu menanti kehadiran kalian.

    Btw kak Anchu, ditunggu seri Cora Dan Alena yang lainnya 😀

  8. Dear Cora dan Alena, semoga kita bisa cepat bertemu nak, tante selalu menanti kehadiran kalian.

    Btw kak Anchu, ditunggu seri Cora Dan Alena yang lainnya 😀

  9. Dear Cora dan Alena, semoga kita bisa cepat bertemu nak, tante selalu menanti kehadiran kalian.

    Btw kak Anchu, ditunggu seri Cora Dan Alena yang lainnya 😀

  10. paling menggelitik ketika kita tanya temanta, senangko toh, kau yang lebih tampan hahaha… sayapun diposisi itu langsung makkala pasti padahal saya tau tegang sekali itu temanta, resah jikalau betul temannya sudah tidak bisa selamat 🙁

  11. paling menggelitik ketika kita tanya temanta, senangko toh, kau yang lebih tampan hahaha… sayapun diposisi itu langsung makkala pasti padahal saya tau tegang sekali itu temanta, resah jikalau betul temannya sudah tidak bisa selamat 🙁

  12. paling menggelitik ketika kita tanya temanta, senangko toh, kau yang lebih tampan hahaha… sayapun diposisi itu langsung makkala pasti padahal saya tau tegang sekali itu temanta, resah jikalau betul temannya sudah tidak bisa selamat 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *